3 mins read

Buku Sejarah yang Terbuka untuk Semua: Ketika Pengetahuan Menjadi Hadiah untuk Keluarga Indonesia

Menbud sebut buku sejarah Indonesia bisa diakses gratis pada Februaricvtogel – Suatu sore di rumah sederhana, seorang ibu menemani anaknya mengerjakan pekerjaan rumah sambil sesekali bercerita tentang masa kecilnya. Ketika sang anak bertanya, “Dulu Indonesia seperti apa?”, ibu itu terdiam sejenak. Ia ingin menjawab dengan utuh, tetapi tak semua keluarga memiliki buku sejarah yang mudah dijangkau atau terjangkau.

Kabar baik pun datang. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut bahwa buku sejarah Indonesia akan bisa diakses secara gratis oleh masyarakat mulai Februari. Buku tersebut dapat dibaca dan diunduh secara daring, membuka peluang baru bagi keluarga untuk belajar sejarah bersama tanpa hambatan biaya.

Sejarah Masuk ke Ruang Keluarga

Bagi banyak orang tua, sejarah sering dianggap pelajaran sekolah yang berat dan penuh hafalan. Namun akses gratis ini mengubah cara pandang tersebut. Sejarah kini dapat hadir sebagai bahan obrolan ringan di rumah—dibaca perlahan, didiskusikan, dan diceritakan ulang dengan bahasa yang lebih dekat dengan anak.

Ketika buku sejarah dapat diakses bebas, ruang keluarga berubah menjadi ruang belajar yang hangat. Anak-anak tidak hanya mengenal tokoh dan peristiwa, tetapi juga memahami nilai perjuangan, keberagaman, dan kebersamaan yang membentuk Indonesia.

Penting bagi Kesehatan Mental dan Ikatan Keluarga

Membaca dan berdiskusi bersama memiliki dampak positif bagi kesehatan mental keluarga. Aktivitas ini membantu anak merasa didengar, dihargai, dan aman untuk bertanya. Orang tua pun memiliki momen berkualitas untuk mendampingi anak tanpa tekanan akademik.

Di tengah gempuran gawai dan konten instan, membaca buku sejarah bersama dapat menjadi waktu jeda yang menenangkan. Anak belajar fokus, orang tua belajar mendengarkan, dan hubungan emosional keluarga pun menguat.

Disusun oleh Para Ahli, Dibuka untuk Semua

Buku sejarah Indonesia yang akan dibuka untuk publik ini disusun oleh banyak sejarawan dari berbagai latar belakang. Isinya mencakup perjalanan panjang bangsa, dari masa awal peradaban, era kerajaan, kolonialisme, perjuangan kemerdekaan, hingga perkembangan Indonesia modern.

Menurut Menbud, naskah buku telah melalui proses panjang dan kini memasuki tahap akhir penyempurnaan sebelum dirilis untuk umum. Tujuannya sederhana namun bermakna: memastikan masyarakat mendapatkan bahan bacaan sejarah yang layak, mudah diakses, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Belajar Nilai, Bukan Sekadar Tanggal

Bagi anak-anak, sejarah bukan soal menghafal tahun dan nama tokoh. Sejarah adalah cerita tentang manusia—tentang keberanian, kegagalan, harapan, dan pilihan. Ketika orang tua membaca sejarah bersama anak, nilai-nilai ini dapat disampaikan dengan cara yang lebih hidup.

Anak belajar bahwa bangsa ini dibangun dengan pengorbanan. Mereka belajar menghargai perbedaan, memahami konteks, dan berpikir kritis. Semua itu adalah bekal penting untuk tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara mental dan sosial.

Akses Gratis, Kesempatan yang Lebih Setara

Tidak semua keluarga memiliki akses ke buku berkualitas. Dengan dibukanya akses gratis, kesenjangan itu perlahan dipersempit. Anak-anak dari berbagai latar belakang kini memiliki kesempatan yang sama untuk mengenal sejarah bangsanya.

Langkah ini juga memberi ruang bagi orang tua untuk lebih terlibat dalam pendidikan anak, tanpa harus khawatir soal biaya tambahan. Pengetahuan menjadi milik bersama, bukan hak istimewa segelintir orang.

Menyiapkan Generasi yang Paham Jati Diri

Sejarah membantu anak mengenal siapa dirinya dan dari mana ia berasal. Dengan pemahaman itu, anak lebih percaya diri menghadapi masa depan. Mereka tidak mudah tercerabut dari akar budaya dan lebih siap hidup di dunia yang terus berubah.

Ketika buku sejarah Indonesia resmi bisa diakses gratis pada Februari, itu bukan sekadar peluncuran bahan bacaan. Itu adalah undangan bagi keluarga Indonesia untuk duduk bersama, membuka halaman demi halaman, dan menumbuhkan cinta pada bangsa melalui cerita masa lalu.

Karena sejarah bukan hanya tentang apa yang telah terjadi, tetapi tentang bagaimana kita membentuk masa depan—bersama anak-anak kita, dari rumah.