Cara Tak Biasa Prabowo Hadapi Peramal MBG Gagal

Jakarta — Presiden Prabowo Subianto memilih cara yang tak lazim saat menanggapi munculnya “peramal” yang meragukan bahkan memprediksi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bakal gagal. Alih-alih merespons dengan kemarahan atau bantahan panjang, Prabowo justru menempatkan kritik tersebut sebagai pemacu kerja, bukan panggung perdebatan.
Respons ini menarik perhatian publik karena menunjukkan pendekatan politik yang tenang, pragmatis, dan berorientasi hasil—sebuah gaya yang berbeda di tengah iklim opini yang kerap gaduh.
Tidak Terpancing, Fokus pada Eksekusi
Ketika narasi kegagalan MBG beredar, Prabowo tidak larut dalam adu argumen. Ia memilih membiarkan waktu dan pelaksanaan di lapangan berbicara. Pesannya sederhana: program sebesar MBG tidak diuji oleh ramalan, tetapi oleh logistik yang berjalan, dapur yang beroperasi, dan anak-anak yang benar-benar makan bergizi.
Pendekatan ini menempatkan kritik sebagai alarm kewaspadaan, bukan ancaman politik.
MBG sebagai Ujian Kapasitas Negara
Program MBG memang bukan proyek kecil. Ia menyentuh rantai pasok pangan, tata kelola anggaran, hingga koordinasi lintas kementerian dan daerah. Prabowo menegaskan bahwa keberhasilan MBG bergantung pada:
-
Perencanaan detail dan pengawasan ketat
-
Kemitraan dengan petani, UMKM, dan penyedia lokal
-
Standar gizi dan keamanan pangan
-
Distribusi yang tepat sasaran
Dengan kerangka ini, kritik—termasuk yang bernada sinis—dijadikan bahan memperbaiki celah, bukan alasan menghentikan langkah.
Human Interest: Anak-anak sebagai Tujuan Akhir
Di balik polemik, Prabowo mengembalikan fokus pada manusia—anak-anak yang membutuhkan asupan gizi untuk tumbuh sehat dan belajar optimal. “Biarkan hasilnya yang menjawab,” adalah garis besar sikapnya. Ketika piring terisi dan dapur berjalan, perdebatan akan mereda dengan sendirinya.
Bagi orang tua dan guru, pendekatan ini memberi harapan: program dinilai dari manfaat nyata, bukan dari hiruk-pikuk opini.
Mengelola Kritik di Ruang Publik
Cara Prabowo menghadapi “peramal kegagalan” mencerminkan strategi komunikasi politik yang tidak reaktif. Ia menghindari eskalasi, menolak personalisasi kritik, dan menggeser diskusi ke indikator kinerja. Ini sekaligus mengirim sinyal ke birokrasi: bekerja rapi, laporkan progres, dan benahi masalah sejak dini.
Risiko Tetap Ada, Transparansi Jadi Kunci
Meski demikian, tantangan MBG tetap nyata—dari konsistensi pasokan hingga pengawasan mutu. Sikap tenang harus diiringi transparansi progres, audit berkala, dan saluran umpan balik agar publik bisa menilai secara objektif.
Penutup
Cara tak biasa Prabowo menghadapi ramalan MBG gagal menunjukkan satu hal: politik hasil lebih penting daripada politik gaduh. Dengan memilih kerja nyata sebagai jawaban, ia menempatkan keberhasilan program di atas adu kata.