Menjawab Paradoks Keberagamaan di Indonesia

INITOGEL – Indonesia kerap dipuji sebagai bangsa religius. Rumah ibadah berdiri di setiap sudut kota dan desa, kalender nasional dipenuhi hari besar keagamaan, dan ungkapan syukur sering mengiringi percakapan sehari-hari. Namun, di balik wajah religius itu, muncul sebuah paradoks keberagamaan: mengapa di negeri yang begitu beriman, konflik identitas, intoleransi, dan polarisasi masih kerap terjadi?
Pertanyaan ini tidak sederhana. Ia menyentuh wilayah keyakinan, sejarah, pendidikan, hingga cara kita hidup bersama sebagai komunitas.
Antara Ritual dan Etika Sosial
Paradoks pertama terletak pada jarak antara ritual keagamaan dan praktik etika sosial. Banyak orang menjalankan ibadah dengan disiplin, tetapi nilai-nilai dasarnya—keadilan, empati, kejujuran—tidak selalu hadir dalam relasi sehari-hari.
Di pasar, di jalan raya, di media sosial, kita kerap melihat kemarahan, hinaan, dan saling curiga. Seorang tokoh masyarakat di kampung pinggiran Yogyakarta pernah berujar, “Agama sering kita jaga di rumah ibadah, tapi lupa kita bawa pulang ke rumah.”
Keberagamaan yang berhenti pada simbol dan rutinitas mudah kehilangan daya transformasinya. Ia menjadi identitas, bukan laku hidup.
Agama sebagai Identitas, Bukan Jembatan
Di ruang publik, agama sering bergeser dari sumber nilai menjadi penanda kelompok. Ketika identitas mengeras, perbedaan kecil bisa terasa mengancam. Media sosial mempercepat proses ini—potongan ceramah, kutipan ayat, atau potret simbolik mudah dipelintir untuk menguatkan “kami” dan “mereka”.
Di tingkat akar rumput, dampaknya terasa nyata. Ada warga yang ragu menyapa tetangga berbeda keyakinan, ada pula yang khawatir salah bicara. Padahal, di banyak tempat, kehidupan berjalan baik-baik saja ketika orang memilih saling mengenal sebelum saling menilai.
Paradoksnya, agama yang seharusnya menjadi jembatan justru kerap dijadikan tembok.
Pendidikan dan Ruang Dialog yang Terbatas
Menjawab paradoks ini tak bisa lepas dari pendidikan. Bukan hanya pendidikan agama sebagai mata pelajaran, melainkan pendidikan keberagamaan sebagai proses memanusiakan manusia.
Banyak anak belajar tentang ajaran agamanya sendiri, tetapi minim kesempatan memahami keyakinan orang lain secara sehat. Akibatnya, perbedaan terasa asing. Ketika dewasa, prasangka yang tak pernah diuji dialog pun mudah tumbuh.
Di beberapa komunitas, inisiatif kecil mulai muncul: diskusi lintas iman, kerja bakti bersama, atau forum warga yang merayakan perbedaan. Kegiatan-kegiatan ini sederhana, namun efektif meruntuhkan ketakutan yang lahir dari ketidaktahuan.
“Setelah ngobrol langsung, ternyata kita sama-sama manusia biasa,” kata seorang pemuda peserta dialog lintas iman di Bandung.
Peran Negara dan Tokoh Publik
Negara dan tokoh publik memegang peran penting dalam membentuk iklim keberagamaan. Ketika bahasa yang digunakan adalah bahasa ketenangan dan keadilan, masyarakat cenderung mengikuti. Sebaliknya, ketika agama dipakai sebagai alat politik atau legitimasi kekuasaan, luka sosial sulit dihindari.
Kebijakan yang adil, penegakan hukum yang konsisten, dan keberanian melindungi kelompok rentan adalah bentuk nyata keberagamaan di level struktural. Tanpa itu, seruan toleransi mudah terdengar hampa.
Keberagamaan yang Membumi
Menjawab paradoks keberagamaan berarti mengajak agama kembali membumi—hadir dalam sikap, bukan sekadar slogan. Ia tampak saat seseorang menahan diri untuk tidak menghina, memilih menolong tanpa bertanya latar belakang, dan berani mendengar pandangan yang berbeda.
Di banyak desa dan kota kecil, praktik ini sebenarnya sudah hidup. Warga bergotong royong membangun jalan, menjaga keamanan bersama, dan saling membantu saat duka, tanpa bertanya keyakinan. Mereka mungkin tidak menyebutnya toleransi, tetapi merekalah wujud nyatanya.
Jalan Pulang ke Esensi
Paradoks keberagamaan di Indonesia bukan tanda kegagalan iman, melainkan tanda bahwa kita masih belajar. Belajar menempatkan agama sebagai sumber kebajikan, bukan senjata identitas. Belajar bahwa kesalehan personal menemukan maknanya ketika berbuah pada kesalehan sosial.
Menjawab paradoks ini tidak membutuhkan jawaban besar dan instan. Ia dimulai dari hal kecil: cara kita berbicara, bersikap, dan memperlakukan sesama.
Di titik itulah, keberagamaan menemukan kembali esensinya—bukan sekadar terlihat, tetapi terasa.